Tuesday, October 30, 2012

Pay it Forward alternatif dalam penciptaan ketentraman sosial

Berawal dari sebuah film Hollywood,  yang berjudul " Pay it Forward "  film yang bisa dikatakan simpel yang tidak terlalu ribet untuk memahami pesan yang ingin ditujukannya. Namun, dengan kesimpelannya film tersebut mampu untuk menginspirasi banyak manusia termasuk gue!. Secara garis besar, film tersebut menggambarkan kehidupan seorang anak kecil yang masih duduk di tingkatan sekolah dasar. Yang dalam keseharian selalu berkutat dengan konflik batin yang disebabkan oleh pertengkaran orang tuanya dan segala fenomena yang terjadi dikehidupan realita anak kecil tersebut. pada suatu ketika anak kecil tersebut mendapat tugas dari gurunya , untuk menciptakan suatu solusi dari suatu permasalahan agar tercipta suatu keharmonisan dalam kehidupan nyata. Ya ! anak kecil tersebut dengan jeniusnya menciptakan sesuatu yang dapat dikatakan sebagai teori, yaitu suatu konsep yang ia sebut dengan  " Pay it Forward " . Anak kecil tersebut menjelaskan tentang konsep tersebut (PayitForward). Caranya simpel sekali, " Jika kamu melakukan kebaikan kepada seseorang, suruh seseorang tersebut, yang sudah kamu tolong, melakukan kebaikan lagi kepada orang lain dalam bentuk pertolongan", jadi si anak kecil tersebut beranggapan bahwa dia tidak memerlukan balas budi (PayBack) yang diberikan kepada setiap orang yang pernah ia tolong, melainkan dia menginginkan setiap orang itu melakukan kebaikan untuk menolong orang lain setelah dia menolong orang tersebut, hal itu pun juga dilanjutan oleh setiap orang yang melakukan kebaikan dengan menyuruh orang yang sudah dia tolong memberik pertolongan kepada orang lain, dan tidak menginginkan balasan kebaikan / atau pertolongan yang telah orang tersebut berikan.Itu secara garis besarnya.
Dan hal itu semua ( Pay it Forward ) telah mengubah segala pemikiran gue untuk bagaimana cara menciptakan suatu ketentraman sosial (damai sejahtera). Selama ini manusia sebagai individu dalam masyarakat hanya melakukan kebaikan dan menolong kepada individu yang sudah mereka kenal saja, bahkan sebagian besar dari mereka melihat suku, agama, ras serta golongan untuk melakukan kebaikan pada individu lain. Secara tidak langsung,  Pay it Forward ingin menghilangkan konsep tentang timbal - balik dan balas budiDan gue setuju akan hal itu, karena pada hakekat manusia dengan hati nuraninya untuk melakukan sebuah kebaikan tidak pantas untuk menuntut balas budi dan timbal - balik. Dan Pay it Forward  hadir pada waktu yang tepat disaat dua konsep yaitu, balas budi dan timbal - balik sudah gak relevan lagi untuk masa sekarang, dimana banyak dari manusia mengeluhkan akan kesusahan dan haus akan pertolongan. Coba elo - elo semua yang baca bayangkan ada berapa juta manusia yang akan tertolong dengan metode yang disodorkan oleh konsep " Pay it Forward ". Dengan lo ngejalanin konsep" Pay it Forward " lu bebas berbuat baik kesiapa aja, lu bebas untuk menolong siapa aja!  tanpa lu berharap balasan untuk apa yang udah lu lakukan, tpi lu justru membimbing org lain untuk terus berbuat baik! termasuk ketika berbuat baik dan menolong para napi yang ingin lepas dari jeruji penjara! namun sehabis itu lu bimbing dia agar dia berbuat baik  kepada orang lain, sehingga pada akhirnya konsep / teori "Pay it Forward "  dapat mewujudkan suatu ketentraman sosial. Jadi kita semua tidak akan lagi melihat orang lain menangis karena kelaparan.Karena semua kebaikan itu harus di - "Pay it Forward"-kan! If someone did you a favor something big, and instead of paying them back, you paid it forward to three others.

 Penggambaran tentang " Pay it Forward "


Sunday, October 7, 2012




Serasa sudah muak dengan segala realita yang terbangun. Segala sesuatunya dipolitisir dengan taktis sehingga tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Para penggawa negeri sebenarnya mempuyai perannya masing – masing dan berpura – pura bahwa semua ini terjadi karena memang sudah semestinya, seolah seperti tidak mengenal dosa mereka menyajikan suatu sandiwara yang seharusnya tidak pantas untuk ditampilkan. Para kaum marjinal hanya dijadikan penonton yang tidak tahu mengenai apapun tentang apa yang mereka saksikan. Bagaikan katak dalam tempurung, para kaum marjinal hanya diikutsertakan   dalam pemilihan para aktor dan aktris yang akan berlaga dipertunjukan, tanpa mereka tahu berperan menjadi apa yang akan dilakoni oleh para aktor dan aktris terpilih. Sedangkan, para kaum bangsawan bertindak sebagai sutradara yang sedang sibuk untuk mempersiapkan alur ceritanya. Dan Para kaum bangsawan pun berperilaku layaknya produser yang bebas menentukan peranan para aktor dan aktris yang terpilih. Cerita pun berlalu dengan begitu eloknya, dengan begitu piawai mereka semua yang berada dipertunjukan berhasilkan memukau para penonton. Penonton dibuat terkejut dengan segala kebijakan yang mereka paparkan, penonton dibuat tertawa dengan semua kebohongan yang mereka suarakan, penonton dibuat sedih dengan kesemrawutan yang mereka terangkan, dan penonton dibuat terpukau dengan janji – janji para permeran – pemeran yang tidak pernah terealisasikan.
 Rezim sekarang sesungguhnya tidak membuka luka lama, melainkan membuat luka baru yang sengaja untuk tidak diobati. Rezim sekarang, dulu muncul dengan sejuta harapan untuk meluruskan segala anomali. Rezim sekarang, dulu hadir bagaikan malaikat yang ingin meluruskan tali yang sudah kusut. Bayangkan, rezim sekarang mampu merperdaya sampai bisa memegang kendali hingga dua periode. Anehnya, wakil berganti tetapi tidak untuk sang nomor satu, sungguh lihai sekali rezim sekarang. Namun, semakin ingin selesai rezim sekarang baru mengeluarkan bau busuknya. Ketika sudah lapuk banyak insan yang mulai mencerca rezim sekarang. Seakan tidak pernah melakukan suatu tindakan, rezim sekarang diasumsikan sudah tidak pantas untuk berada di atas. Sedikit miris ketika melihat para kaum revolusioner bertindak secara sporadis. Sampai kepada situasi krisis kepercayaan, para penghuni bangsa seakan kehilangan arah kemana meraka akan bergantung. Wahai para penghuni bangsa sampai kapan engaku merasa tidak mempunyai negara ?